MYAHOK

Tribute to AHOK

Demi Ambisi Menangkan Pilkada Jakarta, SBY Tak Peduli dengan Nepotisme

hari-murti

Dengan adanya kondisi seperti ini, mengapa SBY justru mengarahkan anaknya ini agar keluar dari TNI hanya untuk dicalonkan menjadi Gubenur DKI?  Agus yang cerdas dan berprestasi itu sudah jelas-jelas mapan karirnya sebagai perwira TNI mengapa harus dihentikan tanpa alasan yang dapat diterima dengan akal sehat?

Bukan berarti merendahkan arti jabatan Gubernur DKI, namun bila dibandingkan dengan pengorbanan dan perjuangan yang sudan ditunjukkan Agus sejak awal menempuh pendidikian militer selama ini, maka SBY sesungguhnya telah menyia-nyiakan kesempatan dan memupus harapan anaknya sendiri dalam berkarir sebagai anggota TNI AD.

Popularitas dan Elektabilitas

Agus boleh saja cerdas dan berprestasi sebagai prajurit TNI, namun bukan berarti Agus bisa ditempatkan sebagai pejabat dimana saja. Tentu tergantung dari kondisi dan peta persaingan. Sabagai calon Gubernur yang diturunkan untuk melawan AHOK, maka sama saja Agus akan bertarung dengan lawan yang tak seimbang.

Agus dan AHOK sama sama cerdas dan punya kapasitas dan kemampuan yang baik, namun berbeda kelasnya. Ibarat di dunia olahraga, Agus adalah juara lari marathon, sedangkan AHOK adalah juara tinju. Keduanya adalah sama-sama juara, tapi apa yang terjadi bila Agus dan AHOK diadu diatas Ring Tinju? Sudah jelas dapat diprediksikan apa yang akan terjadi bukan?

Agus belum punya pengalaman sama sekali sebagai pejabat negara dan di dunia politik adalah pengalaman baru bagi Agus yang selama terbiasa hidup di dunia militer. Sedangkan AHOK telah sangat teruji jadi pejabat dan juga pernah menjadi anggota DPR. Dari sini saja sudah dapat diketahui, bahwa Agus dan AHOK memiliki kapasitas dan kemampuan namun berbeda kelas.

Tingkat popularitas Agus sangat jauh bila dibandinglan dengan AHOK. Bagaimana mungkin Agus bisa mengalahkan AHOK bila dirinya sama sekali tak punya popularitas di Jakarta?

Ataukah mungkin yang diharapkan adalah sisi elektabilitas. Tapi bukankah tingkat elektabilitas juga dibangun dari popularitanya, Mana mungkin penduduk Jakarta memilih seorang Gubernur dari calon yang tak dikenalnya?

Anak yang patuh pada orang tua

Mungkin karena kepatuhan yang luar biasa kepada ayahnya, maka Agus tak berani menolak. Aguspun dengan berat hati bersedia meninggalkan dunia militer yang dicintainya selama bertahun-tahun, hanya demi mematuhi ayahnya yang egois dan ambisius itu.

SBY terlalu otoriter dan tak mengajarkan pada anak-anaknya untuk memberi kebebasan dalam berkarir. Sejak SBY menjadikan Ibas sebagai SekJen Partai, dan kini mengarahkan anak sulungnya Agus agar keluar dari TNI untuk dicalonkan sebagai Gubernur DKI, maka semakin jelas menunjukkan karakternya yang yang tidak peduli dengan Nepotisme. Disisi lain dinilai SBY telah mengorbankan masa depan anaknya sendiri, demi kepentingan partai semata.

Mungkin ada yang bertanya, kalau demikian adanya, apakah berarti semua anak Presiden akan dituduh Nepotisme bila mencalonkan diri atau terpilih menjadi pejabat negara? Sama sekali tidak.

Nepotisme adalah upaya untuk melibatkan pihak-phak terdekat antara lain, saudara atau keluarga sendiri, untuk tujuan tertentu tanpa memperhitungkan skala prioritas, kewajaran, kesesuaian kemampuan atau keahlian yang dimiliki dan kondisi lainnya.

AHOK dan Jarot sudah jelas sebagai pasangan Incumbent, tentu sangat kuat posisinya sebagai pasangan calon Gubernur DKI pada Pilkada 2017 mendatang. Apakah dengan demikian tak akan ada yang mampu mengalahkannya?

Tentu tak ada manusia yang sempurna, dan segala kemungkinan bisa saja terjadi. Namun yang pasti, untuk mengalahkan pasangan AHOK-Jarot, diperlukan pasangan calon yang seimbang, baik dinilai dari kapasitas dan kemampuan individu, pengalaman dan tingkat popularitas serta elektabilitas yang seimbang.

Yang menjadi pertanyaan disini, apakah SBY juga menyadari bahwa Agus, anak sulungnya itu bukanlah lawan yang seimbang dengan AHOK?

Ataukah memang SBY adalah orang yang keras kepala dan tak peduli dengan medan yang akan dilaluinya? Apakah SBY bersikap overestimate kepada anaknya sendiri?

SBY menganggap bahwa Agus adalah anak yang cerdas dan berprestasi di dalam karirnya sebagai anggota TNI, oleh sebab itu cukup layak di calonkan sebagai Gubernur melawan pasangan AHOK-Jarot. Sebegitu pendekkah pertimbangan seorang mantan Presiden selama dua periode itu, hingga menurunkan Agus jadi CaGub DKI?

Apalagi Agus hanya didampingi oleh Sylviana Murni (mantan walikota Jakarta Pusa,  sekarang Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan) sebagai Cawagub.

Bukannya ingin memandang dengan sebelah mata, namun rasanya sangat sulit bagi saya untuk menerima logika atas pencalonan mereka itu.

SBY telah membuat langkah yang sia-sia dengan mencalonkan anaknya sendiri sebagai Gubernur DKI, sekaligus SBY telah mencederai semangat reformasi yang menentang adanya paham KKN demi kepentingan pribadi dan golongannya sendiri.

Doni [email protected]

“Demi Ambisi Menangkan Pilkada Jakarta, SBY Tak Peduli dengan Nepotisme “



vote ahok 240

Bila anda mendukung AHOK, mohon berkenan membagikan link website ini. Klik ‘Share’

Telah dibaca 2,863 x, hari ini 1 x
Artikel terkait

Komentar

Updated: 24/09/2016 — 07:51




1 Comment

Add a Comment
  1. Iya sby memang ambisius ,seakan dia tdak mempedulikan karir agus yg sngat cerah demi masuk politik untuk sebuah jabatan yg kmngkinanya cuma 25% saja,trtnyata SBY sangat dangkal skali pemikiranya tdak sperti yg saya perkirakan sblumnya ,,,lngser dr presiden malah mnjadi kelihatan watak dia yg asli akan kegilaan trhdap jabatan

Leave a Reply

Your email address will not be published.




MYAHOK © 2016 - Tribute to AHOK Frontier Theme