MYAHOK

Tribute to AHOK

Memetik Hikmah dari Nasihat Gus Mus Tentang AHOK

Nasihat Gus Mus tentang Ahok

 

MYAHOK.COM – Entah mengapa, tiba-tiba Gus Mus melalui akun facebooknya berkomentar terkait keberadaan AHOK. Mungkin Gus Mus memandang perlu untuk memberi sedikit nasihat sebab fenomena AHOK dinilai sudah menjadi pembicaraan semua kalangan di seluruh tanah air. Memetik Hikmah dari Nasihat Gus Mus Tentang AHOK ini seakan memberi kesejukan ditengah persilangan pendapat antara kelompok yang pro dan anti AHOK.

Nasihat Gus Mus tentang Ahok

KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

KH Mustofa Bisri yang populer disapa Gus Mus, seorang alim ulama dari kota Rembang Jawa Timur adalah sosok yang sangat humanis. Gus Mus adalah putra dari KH Bisri Mustofa ini juga dikenal sebagai sahabat dekat alm. Gus Dur. Meski Gus Mus dan Gus Dur adalah pemeluk Agama Islam yang taat, juga tokoh terkemuka dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU), namun keduanya sangat mencintai perdamaian antar pemeluk agama. Gus Mus tak pernah sekalipun menunjukkan kebencian kepada umat agama lain dan justru mengajak kepada seluruh umat muslim agar menghormati dan mencintai sesama manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Berikut ini adalah cuplikan status pada Akun FB Gusmus :

Allahu Akbar.

Sebagai ‘virus’, makhluk yang diciptakan Allah bernama Ahok –gubernur DKI– itu memang luar biasa. Ia ‘menyerang’ otak dan menghilangkan akal sehat banyak orang, termasuk mereka yang seharusnya sangat waras. Parahnya lagi; penyakit yang diakibatkannya, menular dengan cepat. Mewabah. Hanya mereka yang dirahmati Allah saja yang selamat dari wabah ini.

Lalu adakah penangkalnya? Ada; yaitu sebagaimana penangkal ‘virus-virus’ lain yang menyerang penalaran: bersikaplah sedang-sedang saja dalam segala hal, jangan berlebih-lebihan. Termasuk sedang-sedang saja dalam MENYENANGI dan tidak berlebih-lebihan dalam MEMBENCi. 😊

Allahu Akbar waliLlãhil hamd.

Apa yang ditulis oleh Gus Mus tersebut, meski perlu penalaran yang cukup untuk memahaminya, dapatlah ditarik sebuah kesimpulan bahwa keberadaan AHOK sebagai Gubernur DKI, memang memicu kontroversi.  Mengapa demikian? Ada baiknya untuk menelaah Nasihat Gus Mus Tentang AHOK ini;

Sebagaimana kita ketahui, AHOK punya perilaku yang sangat unik dan AHOK punya karakter yang tak dimiliki oleh pejabat manapun di negeri ini. Sebagai pejabat, AHOK terlalu berani dalam menyatakan sikap, bahkan tak peduli kepada siapapun juga termasuk kepada pejabat lain yang bahkan lebih tinggi posisinya. Dengan gaya bicaranya yang lugas, AHOK terkesan sangat temperamental apalagi bila menanggapi perilaku korupsi yang dilakukan oleh pejabat lainnya.

Jangankan dengan anak buahnya sendiri, AHOK pun tak segan menyerang oknum Anggota DPRD DKI yang berupaya untuk merugikan kepentingan warga DKI melalui perilaku korupsi dan pelanggaran hukum lainnya. AHOK tak bisa mentolerir perilaku siapapun yang melanggar ketentuan dan hukum, meski itu pejabat setingkat menteri sekalipun.

Namun dibalik sikapnya yang dinilai kasar dan arogan oleh sebagian kalangan, sesungguhnya AHOK adalah pejabat yang murah hati dan suka menolong warga miskin. Hal ini bisa disaksikan sendiri melalui video yang diunggah melalui situs YouTube, dimana AHOK seringkali tanpa pikir panjang membantu warganya yang sedang mengalami berbagai macam masalah dan kesulitan dengan cepat dan bahkan menggunakan uang pribadinya sendiri.

Karena sikapnya yang keras dan tegas dalam memberi sanksi kepada semua PNS di lingkungan PemProv DKI bila diketahui melakungan penyimpangan, maka AHOK juga banyak dibenci oleh anak buahnya sendiri. Namun AHOK tak pandang bulu, sebab semua aturan yang dibuat adalah untuk dipatuhi, dan tak boleh ada aparat yang menggunakan wewenang dan kekuasaannya untuk menindas warganya sendiri. Menurut AHOK, Pemerintah Daerah adalah abdi masyarakat, dan harus berfungsi sebagaimana layaknya untuk melayani setiap kebutuhan warga dan menyelesaikan semua permasalahan yang ada.

AHOK tak pernah sedikitpun tergiur dengan uang dan materi dalam menentukan kebijakan. Satu hal yang terpikir olehnya adalah bagaimana membela kepentingan warga dan melindungi segenap asset PemDa DKI dari tangan-tangan kotor oknum pejabat yang ingin mengeruk keuntungan pribadi. Sikap AHOK yang sangat konsisten dalam menyelamatkan keuangan daerah telah ditunjukkannya ketika AHOK mengembalikan dana operasional yang tak sempat digunakan sebesar Rp. 4,8 Milyar ke kas negara sesaat setelah menjadi Gubernur DKI menggantikan Jokowi. Gubernur mana di negeri ini yang bersedia mengembalikan dana operasional? Uraian detail perihal dana operasional Gubernur AHOK bisa dibaca disini.

AHOK dinilai sebagian kalangan terlalu ekstrim dalam mengambil kebijakan dan memberi sanksi. Namun justru dengan cara seperi inilah AHOK mampu mengubah Jakarta menjadi jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya, baik dibidang pembangunan mental para aparat dan pejabat, juga pembangunan sarana fisik lainnya.

Mungkin karena keteguhan prinsipnya yang tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi pejabat untuk melakukan korupsi, maka sebagian kalangan merasa tidak nyaman dan mencari-cari alasan untuk menolak AHOK sebagai pejabat tertinggi di DKI Jakarta. Apalagi AHOK adalah pejabat non muslim, sehingga dengan mudah dikait-kaitkan dengan hukum Agama Islam untuk menolak AHOK sebagai pemimpin. Hal ini sangat ironis ditengah era reformasi yang menunjung tinggi demokrasi yang berazaskan Pancasila, bukan atas dasar Hukum Agama.

Terkait hal itulah, maka Gus Mus menilai bahwa telah terjadi pertentangan pendapat yang cukup serius di tengah masyarakat dalam menanggapi keberadaan AHOK. Bahkan Gus Mus sampai menyatakan bahwa ada pihak yang seharusnya ‘sangat waras’ berubah menjadi ‘gila’ hanya untuk sekadar menolak AHOK. Demikian halnya dengan sebagian warga pendukung AHOK yang seakan meng-kultuskan AHOK, juga dipandang telah melampaui batas kewajaran.

Nasihat Gus Mus tentang AHOK tersebut sesungguhnya adalah sebagai jalan tengah untuk mewujudkan perdamaian dan kedamaian dalam berpolitik bagi seluruh masyarakat. Bila ada yang tak suka atau benci kepada AHOK, maka tak perlu terlalu berlebihan dalam menyikapinya. Demikian juga bagi masa pendukung AHOK, tak usah menunjukkan sikap yang keterlaluan.

Gus Mus seakan memberi nasihat agar masyarakat bersedia memberi kebebasan berpolitik kepada siapapun juga dengan menjunjung tinggi persamaan hak bagi setiap warga negara dimuka hukum tanpa memandang Agama, Suku dan Rasnya.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tentu harus patuh terhadap aturan dan perundang-undangan yang ada. Dengan demikian, pendapat subyektif adalah hak setiap orang, sepanjang tidak melawan hukum yang berlaku.

Gus Mus sebagai seorang figur panutan bagi sebagian besar umat Islam di Jawa Timur, tentu memberikan nasihat tersebut demi kebaikan bagi semua orang, namun tergantung kepada masing-masing individu dalam menyikapinya.

.oOo.

Penulis : Doni Bastian

” Memetik Hikmah dari Nasihat Gus Mus Tentang AHOK



vote ahok 240

Bila anda mendukung AHOK, mohon berkenan membagikan link website ini. Klik ‘Share’

Telah dibaca 33,692 x, hari ini 2 x
Artikel terkait

Komentar

Updated: 16/09/2016 — 14:56




14 Comments

Add a Comment
  1. digugu lan ditiru…………….

  2. Aduh….apa pak gus mus sendiri yang udah kena virus ga ya? Yang melakukan hal baik dibilang virus…

    1. Pahamilah kalimat atau kata kata yg diucapkan Gus mus secara dalam, jangan sebatas membaca dan mendengarkan saja.. Kandungan apa didalamnya… Hanya orang2 yg berpikiran luas yg bisa memahami apa yg Gus mus ucapkan…

  3. Gerardus Suhardjono

    Ini adalah nasehat pemeluk agama Islam yang Tulen, sangat cerdas dan brilliant.

  4. Maksud pak gusmus kalau mencintai sesuatu itu baik orang ataupun benda jangan terlalu berlebihan krn kalu sudah tak cinta lagi akan sangat menyakitkan. Dan kalau membenci sesuatu itu baik orang ataupun benda jangan terlalu berlebihan krn klu sudah hilang bencinya akan merasa malu.

  5. yaa ayyuhaa alladziina aamanuu laa tattakhidzuu alyahuuda waalnnashaaraa awliyaa-a ba’dhuhum awliyaau ba’dhin waman yatawallahum minkum fa-innahu minhum inna allaaha laa yahdii alqawma alzhzhaalimiina”. (5:51)‎
    ‎‎
    Jelas bahwa dilarang mengambil orang2 Yahudi dan nashrani sebagai Wali (awliya) auliya…….. ‎

    ‎Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali 
    dengan meninggalkan orang-orang mukmin. 
    Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. 
    Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”‎
    [QS:ali imran (3) ayat 28]‎‎  (Tafsir Al Qur’an Al ‘azhim)

    ‎”laa yattakhidzi almu/minuuna alkaafiriina awliyaa

    -a min duuni almu/miniina waman yaf’al dzaalika falaysa mina allaahi fii syay-in illaa an tattaquu minhum tuqaatan wayuhadzdzirukumu allaahu nafsahu wa-ilaa allaahi almashiiru (3:28)‎

    Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). 
    Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Alloh atau orang yang didekati dan ditolong Allah. 
    Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman,

    أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)
    “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa. 
    Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus : 62 – 64).‎
    62. alaa inna awliyaa-a allaahi laa khawfun ‘alayhim walaa hum yahzanuuna‎
    alladziina aamanuu wakaanuu yattaquuna‎
    64. lahumu albusyraa fii alhayaati alddunyaa wafii al-aakhirati laa tabdiila likalimaati allaahi dzaalika huwa alfawzu al’azhiimu‎

    ‎Sesungguhnya wali-wali Allah (awliya Allah) yg disebut pemimpin itu, tidak ada……….

    Mari kita perhatikan bagaimana kedudukan Awliya…‎

    Hadisriwayat.Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104

    “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.” Tanya seorang: 
    “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” 
    Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. 
    Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” 
    Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya:
     “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
    alaa inna awliyaa-a allaahi laa khawfun ‘alayhim walaa hum yahzanuuna‎”.  


    ‎Wahai, kepada yg telah merenungi firman Allah, apa sabda Rasul : ????
    Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” ‎

    Sekarang saya ingin bertanya:!!!!! ‎

    1.    Apakah Pantas! disejajarkan kedudulkan seorang awliya Allah dengan kedudukan seorang gubernur kota pemerintahan.     ??????  ‎

    2. Apakah ada hubungan ; 
    “firman Allah dalam surat Al maidah ayat 51 dengan pemilihan gubernur.???? ‎

    ‎3. Apakah masuk akal/logika;
    Yang Maha Suci ikut campur dalam hal masalah pemilihan administrator kota/gubernur. ?????‎

    4. Pertanyaan saya: 
    Siapakah sesungguhnya, yg telah menistakan agama?????   

    ‎Di akhir zaman seperti ini, makin banyak saja pengekor orang-orang munafik  yang mengaku sebagai oknum-oknum  yang memperjuangkan Al-Quran dan Sunnah. 
    Mereka menjual ayat-ayat Allah dan perkataan suci Sayyidina Muhammad untuk kepentingan kotor mereka. 
    Tidakkah mereka mengkaji firman Allah dalam :
    Surah Al Baqarah ayat 41: ‎‎

    “Dan berimanlah kamu kepada apa (Al-Qur’an) yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa (Taurat) yang ada pada kamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu jual ayat-ayat-KU dengan harga murah dan bertakwalah kepada-KU.”


    ‎Fenomena yang terjadi sekarang ini menunjukkan bahwa pada saat-saat pemilihan umum sering ayat-ayat Al-Quran  disajikan. Jika penyajian tersebut dengan tujuan menjelaskan hukum dan upaya untuk memperjuangkannya di tengah kehidupan, maka hal tersebut merupakan tuntunan Islam. Akan tetapi, mirisnya, banyak  ayat-ayat tersebut hanya disajikan untuk memperoleh dukungan dan setelah itu selesai lah sudah.

    Jangan sampai, jikalau tujuan yang awalnya baik, untuk menegakkan agama Allah, dipelesetkan oleh setan.  Ingatlah setan akan selalu mengipas bara api hawa nafsu akan kekuasaan. Maka berhati-hatilah saudaraku.

    Ari sutedja ismu. Wed[truncated by WhatsApp]

  6. ” yaa ayyuhaa alladziina aamanuu laa tattakhidzuu alyahuuda waalnnashaaraa awliyaa-a ba’dhuhum awliyaau ba’dhin waman yatawallahum minkum fa-innahu minhum inna allaaha laa yahdii alqawma alzhzhaalimiina”. (5:51)‎
    ‎‎
    Jelas bahwa dilarang mengambil orang2 Yahudi dan nashrani sebagai Wali (awliya) auliya…….. ‎

    ‎Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali 
    dengan meninggalkan orang-orang mukmin. 
    Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. 
    Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”‎
    [QS:ali imran (3) ayat 28]‎‎  (Tafsir Al Qur’an Al ‘azhim)

    ‎”laa yattakhidzi almu/minuuna alkaafiriina awliyaa

    -a min duuni almu/miniina waman yaf’al dzaalika falaysa mina allaahi fii syay-in illaa an tattaquu minhum tuqaatan wayuhadzdzirukumu allaahu nafsahu wa-ilaa allaahi almashiiru (3:28)‎

    Secara etimologi, kata wali adalah lawan dari ‘aduwwu (musuh) dan muwaalah adalah lawan dari muhaadah (permusuhan). 
    Maka wali Allah adalah orang yang mendekat dan menolong (agama) Alloh atau orang yang didekati dan ditolong Allah. 
    Definisi ini semakna dengan pengertian wali dalam terminologi Al Qur’an, sebagaimana Allah berfirman,

    أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)
    “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang beriman dan selalu bertaqwa. 
    Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus : 62 – 64).‎
    62. alaa inna awliyaa-a allaahi laa khawfun ‘alayhim walaa hum yahzanuuna‎
    alladziina aamanuu wakaanuu yattaquuna‎
    64. lahumu albusyraa fii alhayaati alddunyaa wafii al-aakhirati laa tabdiila likalimaati allaahi dzaalika huwa alfawzu al’azhiimu‎

    ‎Sesungguhnya wali-wali Allah (awliya Allah) yg disebut pemimpin itu, tidak ada……….

    Mari kita perhatikan bagaimana kedudukan Awliya…‎

    Hadisriwayat.Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104

    “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.” Tanya seorang: 
    “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” 
    Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. 
    Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” 
    Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya:
     “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
    alaa inna awliyaa-a allaahi laa khawfun ‘alayhim walaa hum yahzanuuna‎”.  


    ‎Wahai, kepada yg telah merenungi firman Allah, apa sabda Rasul : ????
    Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” ‎

    Sekarang saya ingin bertanya:!!!!! ‎

    1.    Apakah Pantas! disejajarkan kedudulkan seorang awliya Allah dengan kedudukan seorang gubernur kota pemerintahan.     ??????  ‎

    2. Apakah ada hubungan ; 
    “firman Allah dalam surat Al maidah ayat 51 dengan pemilihan gubernur.???? ‎

    ‎3. Apakah masuk akal/logika;
    Yang Maha Suci ikut campur dalam hal masalah pemilihan administrator kota/gubernur. ?????‎

    4. Pertanyaan saya: 
    Siapakah sesungguhnya, yg telah menistakan agama?????   

    ‎Di akhir zaman seperti ini, makin banyak saja pengekor orang-orang munafik  yang mengaku sebagai oknum-oknum  yang memperjuangkan Al-Quran dan Sunnah. 
    Mereka menjual ayat-ayat Allah dan perkataan suci Sayyidina Muhammad untuk kepentingan kotor mereka. 
    Tidakkah mereka mengkaji firman Allah dalam :
    Surah Al Baqarah ayat 41: ‎‎

    “Dan berimanlah kamu kepada apa (Al-Qur’an) yang telah Aku turunkan yang membenarkan apa (Taurat) yang ada pada kamu, dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. 
    Janganlah kamu jual ayat-ayat-KU dengan harga murah dan bertakwalah kepada-KU.”


    ‎Fenomena yang terjadi sekarang ini menunjukkan bahwa pada saat-saat pemilihan umum/pilkada  sering ayat-ayat Al-Quran  disajikan. Jika penyajian tersebut dengan tujuan menjelaskan hukum dan upaya untuk memperjuangkannya di tengah kehidupan, maka hal tersebut merupakan tuntunan Islam. 
    Akan tetapi, apa yg terjadi sekarang.    ?????

    Ari sutedja Ismu. 
    Wednesday, 11 January 2017.  

    5:33:20 PM.

  7. Marilah kita renungkan bersama:

    Siapakah yg pertama- tama selalu menyebut/ menggunakan surat Al maidah 51??


    Bapak Ahok? 

    Ataukah: 

    Sekelompok manusia yg tidak setuju bapak Ahok, menang dalam pilkada 2017.   ?????  

    1. yang pertama nyebutin surat al maeda/55 itu al quran, kalo keberatan protes aja tuh sama yg menurunkan al quran!!!

  8. Dan Gus Muspun harus menasehati Ahok suruh jangan berlebih lebihan dalam berbicara.harus dengan tata krama.
    Itu baru pendapat yang bersifat sebagai penengah.di antara yang tidak pro ahokpun banyak yang baik jujur dan tegas.

  9. gusdur sama ahok sama saja mereka bejuang habis habisan agar posisinya menjadi penghuni neraka. deal™

  10. Kemiskinan indonesia barometernya jakarta
    Korupsi barometernya indonesia di jakarta
    Membuat indonesia seakan berada di arab di jakarta…
    Dunia ini luas suku bercampur agama bercampur… mau pilih ideologi negara atau pilih ideologi agama…

    Yang hidup dekat dng surga adalah yg cinta sama sama kenyang jasmani tenang iman selamat akhirat.
    Karena dlm semua kebencian ada maut dan neraka.
    Agama tdk ada Arogan agama Penyedia jalan aman dan selamat.

  11. winda vinesha

    Orang bicara blak-blakan apa adanya itu memang menyakitkan bagai di tampar dari depan sedangkan banyak orang yang berbicara manis dan lembut di depan mata tapi memukul dari belakang

  12. Marilah kita renungkan bersama:

    Siapakah yg pertama- tama selalu menyebut/ menggunakan surat Al maidah 51??


    Bapak Ahok?

    Ataukah:

    Sekelompok manusia yg tidak setuju bapak Ahok, menang dalam pilkada 2017. ?????

Leave a Reply

Your email address will not be published.




MYAHOK © 2016 - Tribute to AHOK Frontier Theme