Home » Karir » Pengakuan AHOK Saat Diminta Jadi Komisaris Utama Pertamina

Pengakuan AHOK Saat Diminta Jadi Komisaris Utama Pertamina

komisaris utama pertamina

Saya pikir, siapapun yang melihat ketidakadilan, melihat konstitusi dilanggar, pasti akan terpanggil untuk berjuang.  Ibu Megawati (Ketum PDIP-red) pernah bilang sama saya,  kalau kita mau perbaiki negara ini,  kita butuh partai politik.

“Pak Ahok, tidak bisa berjuang sendiri. Kita harus ada di dalam partai politik”. Saya sampai bicara 3 jam lebih dengan beliau.

Jadi saya berpikir kalau saya jadi pengusaha saja, sebetulnya saya  itu egois.  Saya dulu hanya berpikir, masa bodoh lah.. lu mau mati, mati aja lah.. pusing amat lah … lu benci gua juga.. emang gue susah..  iya dong..

Yang penting saya hidup senang aja.. Pusing amat.. saya bisa keliling dunia jadi pembicara. Keliling aja terus.. Jalan-jalan terus.. Ngapain gua mau berjuang .. disalahpahamin..  Aku dulu berpikir seperti itu..

Tapi saya mulai mengalahkan diri sendiri. Saya mulai mengerti. Hidup paling berarti itu kalau kita ada tujuan.  Ada kebenaran yang kita perjuangkan. Ada keadilan yang kita perjuangkan. Jadi  tidak berhenti hidupnya. Itu yang membuat saya teruskan masuk.

Ke BUMN bagaimana?

Mungkin Pak Presiden dan Pak Erik berpikir bahwa saya sedang nggak punya pekerjaan. Kasihan sama saya kali…  Tapi  ketika saya diminta jadi Komisaris Utama Pertamina, saya bilang, saya sudah bekerja di swasta, dikasih saham lagi,  join kita nih. Gajinya not bad juga.. lumayan lah..

Walaupun tidak sebanyak operasional DKI Jakarta ya.  Tapi kalau anggaran operasional DKI nggak bisa saya kantongin. Tapi  kalau gaji swasta kan jelas,  resmi dipotong pajak. Ya sudah, saya berpikir di swasta sajalah..

Saya juga tidak masuk ke struktur partai. Tapi saya berjanji sama pak Jarot di fungsional partai, yang kalau ada pertemuan kader, saya ngajar, kasih semangat untuk mereka. Meyakinkan kader partai seluruh Indonesia bahwa jujur itu itu adalah harta kita yang terbaik sebagai politisi.

Jadi reputasi yang baik, tidak bisa dikalahkan oleh uang berapapun.  Reputasi yang baik adalah modal seorang untuk menjadi politisi  untuk bertahan. Dan saya bukan bicara teori. Saya buktikan, bahwa  sampai hari ini, saya masih dipakai orang, karena reputasi yang baik.

Kenapa saya diajak join dengan swasta, suruh pegang perusahaan. “Soalnya lu gak mungkin curi duit gua”, begitu dia bilang ke saya.

“Aku juga udah males tandatangan nih. Kalau lu yang pegang, saya bisa jalan-jalan.. enak.. Sepuluh tahun lagi, kamu siapkan anak saya jadi pengganti kamu ya.. Kamu bantu saya 10 tahun lah”

Kenapa saya?

“Lu nggak mungkin nyolong”, dia bilang.  “Lu kalau mau nyolong, sewaktu jadi Gubernur DKI, lu udah nyolong..!”

Reputasi yang baik itu mengalahkan segala kekayaan besar. Niat saya itu ngajarin kader-kader  PDI Perjuangan supaya jadi kader yang  jujur . Nggak usah takut kalau jujur itu. Lu gak perlu korup untuk mempertahankan kursi kamu.

Selama kamu jujur, menunjukkan karakter yang sejati, kamu akan dicari orang.. ! Kamu akan laku dicari partai.

Eh gak tau saya dipanggil ke BUMN. Makanya saya tanya, ini buat ‘umega’ atau pengen membereskan Pertamina? (‘Umega’ itu Usaha Menambah Gaji).

Kata beliau (Erik Thohir-red), ini mau bersihkan PERTAMINA,  sebab  kita sudah defisit anggaran berjalannya udah tinggi. Pertamina harusnya bisa untung 2 kali lipat dari yang sekarang karena Petronas sudah 500 kali lebih untung daripada kita. Jadi kita ini ada masalah sistem yang ada di dalam.

Banyak orang ditaruh di dalam,  orang baikpun akan mundur. Kenapa ? Karena nggak mau urusan sama orang. Nggak mau ribut..  Jadi dia berhenti atau juga ikut malah tergoda ikut main.

“Kalau pak Ahok kan udah pasti kalau ada yang nggak benar pasti ditabrak kan.. Dan nggak mungkin mundur juga..”katanya (Erik Thohir-red)

Saya nggak ada takut mundur itu. Makanya saya ditaruh jadi  Komisaris Utama Pertamina. Saya lebih suka jadi KomUt, asal Direkturnya nurut..

Basuki Tjahaja Purnama (AHOK)

Leave a Reply

Your email address will not be published.