Apa Bedanya Ahok dan Anies saat Menghadapi Banjir?

ahok dan anies

Ahok dan Anies tentu punya cara tersendiri dalam mengatasi banjir di DKI. Namun, kira-kira adakah bedanya? Tentu saja ada, meskipun Ahok dan Anies sama-sama punya kapasitas, tapi simak apa yang ditulis oleh Birgaldo Sinaga berikut ini :

Dulu kalo Jakarta banjir, Ahok akan kena maki-maki. Dasar gubernur guoblok..gubernur somplak..gubernur gak becus…gubernur gak bisa kerja. Mulutnya penuh comberan pantas Jakarta jadi comberan.

Lalu tokoh ulama dengan sinis mengeluarkan cuitan seperti AA Gym dengan cuitannya. Katanya “
“Innaalillahi, Jakarta banjir lagi, semoga nanti Ada pemimpin Jakarta yang rendah hati, tak ujub takabur merasa sudah banyak berbuat,”.

Dasar Ahok si keras kepala. Ia jawab dengan konsistensi terjun 24 jam mengawasi banjir. Ahok kerja keras membereskan masalah hulu dan hilir banjir yang selama ini mendera warga Jakarta.

Ahok dengan tegas memindahkan warga pinggir kali ke rumah susun. Ia bersikeras akan menggusur rumah2 liar yang mempersempit DAS Daerah Aliran Sungai. Ia tak peduli meski harus kehilangan potensi suara dari daerah kumuh itu.

Kampung Pulo, Kalijodo berhasil dengan baik direlokasi. Semua parit, gorong gorong dibersihkan. Endapan pasir tanah yang mendangkalkan drainase dikuras hingga bersih.

Pompa-pompa raksasa siap sedia saat hujan deras mengguyur. Ujungnya banjir bisa diatasi. Biasanya banjir yang selalu rutin terjadi di Kampung Pulo yang menelan korban, bisa diatasi. Biasanya Kelapa Gading menjadi lautan air akhirnya hanya genangan yang cepat kering.

Konyolnya hasil kerja keras Ahok dengan enteng dikomentari kadrun “halahhh..emang curah hujan Jakarta lagi rendah kok…masih banyak banjir kok dibeberapa titik. Gitu aja sudah sok..”

Nah Malam Tahun Baru 2020 hujan melanda Jakarta. Hujan deras itu membuat Jakarta kebanjiran. Banjir besar merendam ribuan rumah.

Rumah artis Yuni Shara yang tidak pernah disapa banjir akhirnya kena juga. Paling parah di Jakarta Timur. Pool Taxi Blue Bird bagai danau. Bahkan Bandara Halim Perdana Kesuma terpakaa ditutup karena landasan pacunya jadi lautan.

Apa yang terjadi? Dengan santai pemuja Anies bilang….”semua sudah takdir…banjir itu sudah suratan Ilahi… Kita tidak bisa melawan kehendak Ilahi. Ini cobaan, kita mesti pasrah atas semuanya. Tawakal”.

Bagaimana dengan AA Gym yang dulu sinis sama Ahok? Mingkem. Hilang. Hihihi.

“Begini…volume hujan yang turun ke bumi harus dihitung cermat. Kualitas air yang jatuh ke bumi harus diukur berdasarkan kebeningan buliran air. Setiap hujan itu selalu berbeda intensitasnya. Itu artinya cara dan pengelolaannya juga harus tepat. Tidak bisa sama dan buru2. Jumlah air harus bisa ditentukan volumenya agar saat turun kita bisa memperkirakan kecepatan air masuk ke dalam tanah. Sebagian kita alirkan ke tempat yang telah kita tentukan. Faham ya”.

Tuhh kan…kalian aja yang cupet gak bisa mengerti kata2 gubernur rasa presiden..

Dasarrr…

 


Birgaldo Sinaga
Aktivis Medsos

(Visited 226 times, 1 visits today)

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.