Home » Perspektif » New York Times Puji Ahok, Segudang Prestasinya Disorot Dunia

New York Times Puji Ahok, Segudang Prestasinya Disorot Dunia

puji ahok

MYAHOK.COM – Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok banyak menghasilkan sejumlah prestasi ketika  masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Berbagai kesuksesan ketika memimpin Jakarta tak hanya diakui oleh berbagai kalangan di tanah air tapi juga memperoleh perhatian dari  dunia internasional.

Baru-baru ini penghargaan terbaru datang dari majalah Foreign Policy. Dalam sebuah daftar, mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga pernah masuk ke dalam Global reThinkers 2017,  yang mana berisi nama-nama pemimpin terkemuka dan intelektual di dunia.

Lalu apa saja prestasi yang diukir oleh Ahok yang pernah disorot oleh dunia Internasional itu?

Berikut ini uraiiannya:

Berkat kerja keras Ahok dalam melaksanakan pembangunan ketahanan kota, Jakarta pernah menjadi salah satu finalis dalam jaringan 100 Resilent Cities atau 100 RC. Kota-kota ini kemudian bergabung dengan komunitas global.

100 Residenr Cities merupakan program yang dimotori oleh  The Rockefeller Foundation yang bertujuan untuk membantu kota-kota di seluruh dunia dalam rangka meningkatkan ketahanan dan untuk menghadapi tantangan fisik, sosial dan ekonomi.

Manfaat apa yang dapat diraih dari program itu?  Jakarta diberikan kemudahan dalam mengakses berbagai fasilitas, antara lain berupa perangkat, finansial, sumbangan keahlian teknis, dan beberapa sumber daya lainnya.

Semua kemudahan itu bertujuan untuk membangun ketahanan kota di dalam menghadapi berbagai tantangan di era abad ke-21.  Apalagi separo populasi manusia menempati perkotaan, dan diperkirakan meningkat menjadi 70 persen pada tahun 2050.

Akibat yang ditimbulkan adalah bahwa permasalahan kota akan menjadi semakin kompleks, khususnya  saat menghadapi pertumbuhan populasi yang makin tumbuh pesat. Selain itu, karena  ulah manusia sendiri maka akan menimbulkan bahaya dengan adanya bencana alam.

Ahok juga menuai sorotan dari New York Times, media ternama asal Amerika Serikat. Koran terbesar di Amerika Serikat itu, bercerita tentang dan puji Ahok yang ditulis pada halaman A10 dengan judul “Run by Jakarta Governor Up ends Indonesia’s Party Politics“.

Namun, saat itu yang menjadi target adalah terguncangnya sistem politik oligarki yang sudah mendarah daging di Indonesia. Kala  itu, Ahok sempat disebut sebagai “orang luar” oleh New York Times di dalam kancah politik, sebab dia berasal dari kelompok minoritas.

Sebagaimana diketahui, Ahok berasal dari etnis Tionghoa dan seorang yang beragama Nasrani yang berada di tengah-tengah penduduk Jakarta yang mayoritas beragama Islam.

Pada Pilkada DKI Jakarta 2017, Ahok memilih untuk maju melaui jalur independen dan keputusannya tersebut sempat mengguncang sistem perpolitikan di Indonesia.

Sejak negara ini mulai menerapkan sistem pemilihan umum langsung, umum, bebas dan rahasia pada akhir tahun 1990, calon independen boleh dipastikan kalah. tetapi saat itu Ahok justru mendapatkan banyak sekali dukungan. Padahal 10 partai di parlemen telah dikuasi oleh dinasti politik, mantan jenderal, dan konglomerat bisnis yang membiayai mereka.

Sementara itu, sisanya hanyalah kelompok berbasis Islam dengan ideologi politiknya yang bisa berubah tergantung pada koalisi partai.

New York Times juga mengutip Charlotte Setijadi, seorang periset di program Ilmu Indonesia di Institut Studi Asia Tenggara-Yusof Ishak yang berbasis di Singapura puji Ahok : “Ahok menjadi alternatif bagi warga yang sudah muak dengan sistem politik di Indonesia“.

Saya pikir ini adalah gambaran yang bisa menolongnya dalam pemilihan gubernur,” ucap Charlotte.

Ahok yang sekarang menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina tersenyum usai menemui Presiden Joko Widodo di Istana, pada Senin (9/12/2019). Pada pertemuan tersebut, Presiden meminta agar memperbaiki defisit neraca perdagangan kita di sektor petrokimia dan migas.

Prestasi lainnya yang pernah dicetak oleh mantan bupati Belitung Timur ini,  yaitu pernah masuk ke dalam daftar Global reThinkers 2017.

Saat itu, banyak nama para pemimpin terkemuka dan intelektual dunia dari hasil pilihan majalah Foreign Policy dari Amerika yang masuk ke dalam daftar tersebut.

“Tahun ini, Foreign Policy dengan bangga mempersembahkan Global reThinkers para legislator, teknokrat, komedian, advokat, pengusaha, pembuat film, presiden, provokator, tahanan politik, periset, ahli strategi, dan visioner yang secara bersama-sama menemukan cara yang luar biasa, tak hanya untuk memikirkan kembali dunia kita yang baru dan aneh ini, tapi juga membentuknya kembali. Mereka adalah orang-orang yang bertindak yang mendefinisikan 2017,” demikian dikutip dari situs Foreign.

Selain Ahok, ada juga nama-nama penting antara lain Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Gambia Adama Barrow, serta Dubes AS untuk PBB Nikki Haley.

Di dalam daftar tersebut, terdapat nama mantan tangan kanan Donald Trump, Steve Bannon; prajurit transgender yang membocorkan rahasia AS, Chelsea Manning; seniman Ai Wei Wei; juga Leila de Lima, senator Filipina yang menjadi pengkritik terdepan Presiden Rodrigo Duterte.

“Untuk tetap berdiri di tengah fundamentalisme yang sedang bertumbuh di Indonesia,” demikian alasan Foreign Policy memilih Ahok.

Dalam narasinya, associate editor di Foreign Policy, Benjamin Soloway juga sempat puji Ahok dan menyebut, bahwa saat terjun ke dunia politik di Jakarta pada 2012, Ahok tak sesuai dengan profil politikus pada umumnya.

“Ia bermulut tajam, keturunan Tionghoa, dan seorang Protestan di negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia,” kata Soloway.

“Pada awalnya, latar belakang Ahok tak menjadi masalah. Namun, situasi berbalik pada 2017.”

#myahok.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.