Film  

Sam Wilson dan Tatanan Dunia Baru: Menyambut Era Baru Captain America

captain america

Melansir situs https://filmdewasa.id yang membahasa tentang review film, berikut ini artikel terkait. Empat belas tahun setelah Captain America: The First Avenger (2011) memperkenalkan Steve Rogers, tongkat estafet—atau tepatnya tameng vibranium—resmi berpindah tangan ke Sam Wilson. Captain America: Brave New World (rilis 14 Februari 2025 di AS) menjadi film ke‑35 MCU sekaligus debut layar lebar Sam sebagai Cap penuh waktu.

Sinopsis Singkat (Tanpa Spoiler Berat)

Captain America: Brave New World melanjutkan kisah Sam Wilson (Anthony Mackie) yang kini sepenuhnya mengemban identitas dan perisai Captain America setelah Steve Rogers pensiun. Film ini menjadi titik awal bagi Sam untuk membuktikan dirinya sebagai pahlawan di tengah dunia yang terus bergejolak dan penuh intrik politik.

Cerita dimulai dengan terpilihnya Thaddeus “Thunderbolt” Ross (Harrison Ford) sebagai Presiden Amerika Serikat yang baru. Meskipun memiliki sejarah konflik dengan para pahlawan super, Ross berusaha menjalin hubungan baik dengan Sam Wilson, bahkan mengajaknya untuk membantu menangani misi rahasia yang berkaitan dengan urusan negara.

Salah satu fokus utama adalah penemuan logam langka bernama adamantium di “Pulau Celestial”, yang terbentuk dari kemunculan Celestial Tiamut di Samudra Hindia (setelah peristiwa Eternals). Ross mengusulkan perjanjian internasional untuk mengatur penambangan dan distribusi adamantium ini, yang konon lebih kuat dari vibranium Wakanda, guna mencegah perlombaan senjata global.

Namun, rencana ini memicu berbagai konflik dan intrik politik. Dr. Samuel Sterns alias The Leader (Tim Blake Nelson), seorang jenius bermutasi yang pernah dipenjara oleh Ross, memanipulasi situasi dengan menggunakan teknologi pengendali pikiran untuk membalas dendam dan menghancurkan reputasi Ross.

Sam Wilson, bersama sekutunya seperti Joaquin Torres yang kini menjadi Falcon baru (Danny Ramirez) dan Secret Service Agent Ruth Bat-Seraph (Shira Haas), harus mengungkap konspirasi ini. Mereka berhadapan dengan ancaman dari organisasi kriminal seperti Serpent Society dan intrik politik yang mengancam stabilitas dunia.

Konflik memuncak ketika Presiden Ross sendiri, setelah mengonsumsi pil eksperimental, berubah menjadi Red Hulk dan mengamuk. Captain America yang baru harus menghadapi bahaya besar ini, tidak hanya secara fisik, tetapi juga tantangan moral dan politik yang kompleks, sambil membuktikan bahwa keberanian sejati tidak hanya berasal dari kekuatan super, melainkan juga dari integritas dan kemauan untuk melindungi orang lain.

Captain America: Brave New World

Tema & Nada: Paranoid Thriller 70‑an Versi MCU

Sutradara Julius Onah secara terbuka menyebut The Day of the Jackal, Le Samouraï, dan film seumurannya sebagai referensi visual dan atmosfer—menjadikan film ini lebih mirip thriller politik daripada petualangan superhero konvensional. Onah juga menekankan “empati sebagai super‑power” Sam, selaras latar kariernya sebagai konselor veteran,

Di atas kertas, nada gelap dan intrik Gedung Putih ini seharusnya menjawab kerinduan penonton pada suasana The Winter Soldier (2014). Namun sebagian kritik menilai skenario “terjebak Easter egg” sehingga isu politik hanya dipermukaan, tak sedalam yang dijanjikan.

Karakter & Akting

  • Sam Wilson (Anthony Mackie). Sebagai Cap “tanpa serum”, Sam tampil lebih rentan namun berhati besar—“Rocky Balboa di MCU,” kata produser Nate Moore. Mackie memadukan karisma ringan dan beban moral; sayangnya naskah kadang membuatnya terasa “sekadar mesin pukul heroik.

  • Presiden Ross / Red Hulk (Harrison Ford). Ford menyuntikkan bobot emosional dan, ironisnya, kehangatan pada figur yang akhirnya “meledak” secara literal. Red Hulk memang dijadikan gimik pemasaran sejak awal—Onah mengakui, menutup rapat kejutan semacam ini di era bocoran mainan nyaris mustahil.

  • The Leader (Tim Blake Nelson). Tampil lebih komik‑akurat, Nelson memberi antagonis intelektual yang sebenarnya menarik, meski efek prostetiknya menuai pro dan kontra.

  • Ruth Bat‑Seraph/Sabra & Isaiah Bradley. Dua karakter ini membuka diskusi identitas—dari geopolitik Israel‑Palestina hingga trauma rasial Amerika—walau sebagian penonton menilai subplotnya tak digarap tuntas.

Produksi Teknis

  • Sinematografi Kramer Morgenthau bermain dengan tone dingin dan bidikan hiper‑realistik Gedung Putih yang hancur; adegan aksi sayangnya dicap “terlalu CGI” dan kadang “lifeless”

  • Desain VFX. Red Hulk dipuji realistis; sebaliknya, sayap baru Sam dan latar “Cherry Blossom Fight” dinilai “green‑screen mess”

  • Skor Musik. Komposer Laura Karpman—menggabungkan mainan pegas dan radio vintage—memberi lapisan tekstur unik yang menonjol saat tensi memuncak di Gedung Putih.

Box Office & Resepsi

Dengan bujet ±US$180 juta, film meraup US$415,1 juta global: break‑even, tapi tidak spektakuler (drop 68 % di pekan kedua, terburuk ketiga di MCU).

  • Rotten Tomatoes: 47 % (342 kritikus)

  • Metacritic: 42/100

  • CinemaScore: B–, terendah di MCU sejauh ini.

Pujian tertuju pada chemistry Mackie‑Ford dan kesegaran tema; kritik mengarah ke plot over‑stuffed, koneksi MCU berlebihan, serta CGI yang belum matang.

Kontroversi & Diskursus

Paralel Ross‑Trump, pergantian sub‑judul “New World Order”, dan debut Sabra di tengah konflik Gaza semua menjadi bara perdebatan. Walau gaduh di media sosial, studi Deadline menilai kontroversi ini minim dampak ke penjualan tiket.

Keterhubungan MCU & Masa Depan

Brave New World bukan hanya menegaskan Sam sebagai Cap, tetapi juga:

  1. Memperkenalkan adamantium—jembatan potensial ke X‑Men.

  2. Menyulut Red Hulk untuk Thunderbolts (2026) dan Avengers: Doomsday (2026).

  3. Post‑credits scene The Leader mengisyaratkan ancaman multi‑dimensi menjelang Secret Wars (2027).

Kesimpulan

Captain America: Brave New World berani mengganti superhero serum‑powered dengan empati‑powered, mengawinkan thriller politik 70‑an dengan formula MCU modern. Saat berhasil, film ini memancarkan ketegangan manusiawi dan relevansi kontemporer. Saat tersandung, ia terasa seperti “kompilasi Easter egg” yang dijejali subplot hingga berat sendiri.

Jika Anda mencari origin story emosional dan tidak keberatan dengan efek visual yang inkonsisten, film ini wajib ditonton—terutama sebagai fondasi fase akhir Multiverse Saga. Namun bagi penonton yang menginginkan kejernihan narasi setajam The Winter Soldier, bersiaplah menghadap Brave New World dengan ekspektasi terukur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses