Buah sukun selama ini mungkin lebih sering dikenal sebagai makanan rumahan. Di beberapa daerah, sukun cukup mudah ditemukan di kebun, pekarangan, bahkan tumbuh tanpa banyak perawatan khusus. Buahnya biasa digoreng, direbus, dibuat keripik, atau sekadar dimakan sebagai camilan.
Namun, kalau dilihat dari sudut pandang bisnis, sukun sebenarnya punya peluang yang jauh lebih besar.
Buah dengan nama ilmiah Artocarpus altilis ini dapat diolah menjadi berbagai macam produk dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan menjual buah segarnya. Bahkan, beberapa jenis olahan sukun berpotensi dikembangkan untuk pasar ekspor.
Peluang tersebut menjadi semakin menarik karena konsumen di berbagai negara mulai mencari produk pangan yang praktis, berbahan alami, memiliki nilai gizi, dan mempunyai cerita mengenai asal-usul produknya.
Artinya, sukun tidak harus berhenti sebagai buah lokal. Dengan pengolahan, pengemasan, standardisasi dan strategi pemasaran yang tepat, sukun bisa menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Sukun Tidak Hanya Cocok untuk Digoreng
Salah satu masalah komoditas buah lokal di Indonesia adalah pola konsumsi yang masih sangat sederhana.
Ketika panen sukun melimpah, sebagian besar buah biasanya dijual dalam kondisi segar dengan harga yang relatif rendah. Sebagian lainnya dikonsumsi sendiri.
Padahal, buah sukun mempunyai karakteristik yang cukup menarik untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri pangan.
Tekstur daging buahnya padat. Kandungan patinya cukup tinggi dan setelah dimasak mempunyai tekstur yang menyerupai makanan berbahan tepung atau kentang.
Karakter tersebut membuka banyak kemungkinan pengolahan.
Sukun bisa dijadikan keripik, tepung, puree, frozen food, cookies, crackers, pasta, snack dan berbagai produk pangan lainnya.
Di sinilah sebenarnya nilai tambahnya.
Daripada menjual satu buah sukun dengan harga tertentu, pengusaha dapat mengubah buah tersebut menjadi produk dengan harga jual beberapa kali lipat.
Mengapa Produk Olahan Sukun Menarik untuk Ekspor?
Ada beberapa alasan mengapa produk olahan sukun layak diperhitungkan sebagai salah satu produk ekspor berbasis pertanian.
Pertama adalah umur simpan.
Buah sukun segar mempunyai keterbatasan dalam penyimpanan dan distribusi. Produk olahan yang sudah melalui proses pengeringan, pembekuan atau pengolahan tertentu tentu lebih mudah dikirim ke pasar yang jauh.
Kedua adalah biaya logistik.
Mengirim buah segar dalam jumlah besar membutuhkan penanganan yang lebih rumit. Produk olahan yang memiliki kadar air lebih rendah atau telah dikemas dengan baik biasanya lebih mudah ditangani dalam rantai distribusi.
Ketiga adalah nilai tambah.
Inilah bagian yang paling menarik.
Petani menjual buah. Industri menjual produk.
Perbedaannya cukup besar.
Misalnya, sukun segar hanya dihargai berdasarkan berat buah. Sementara itu, ketika sudah menjadi keripik premium, tepung sukun atau produk makanan siap konsumsi, harga jualnya tidak lagi semata-mata ditentukan oleh harga bahan baku.
Harga ditentukan oleh kualitas produk, merek, kemasan, manfaat, rasa, desain, sertifikasi dan posisi produk di pasar.
1. Keripik Sukun Berpotensi Menjadi Produk Ekspor
Kalau berbicara tentang olahan sukun, keripik mungkin merupakan produk yang paling mudah dibayangkan.
Indonesia sudah memiliki budaya membuat keripik dari berbagai bahan. Mulai dari singkong, pisang, kentang, talas, nangka sampai sukun.
Tetapi untuk pasar ekspor, keripik sukun tidak cukup hanya dibuat enak.
Produk harus mempunyai identitas.
Misalnya dibuat sebagai Indonesian Breadfruit Chips dengan berbagai pilihan rasa.
Bukan hanya rasa asin.
Bisa dikembangkan rasa original, sea salt, spicy, barbeque, cheese, sweet chili atau varian rasa khas Indonesia.
Untuk pasar tertentu, rasa original justru bisa menjadi pilihan menarik karena konsumen ingin merasakan karakter asli bahan pangan tersebut.
Kemasan juga harus diperhatikan.
Keripik yang dijual di pasar lokal dengan plastik sederhana tentu berbeda dengan produk yang ditujukan untuk supermarket luar negeri.
Produk ekspor membutuhkan kemasan yang terlihat profesional, informasi produk yang jelas dan perlindungan yang baik terhadap udara serta kelembapan.
2. Tepung Sukun Memiliki Peluang Lebih Besar
Menurut saya, tepung sukun justru merupakan salah satu produk yang sangat menarik untuk dikembangkan.
Mengapa?
Karena tepung mempunyai fleksibilitas penggunaan yang jauh lebih luas.
Tepung sukun dapat digunakan sebagai bahan campuran berbagai produk makanan.
Misalnya:
- cookies
- cake
- brownies
- crackers
- pancake
- mie
- pasta
- roti
- snack
- makanan bayi
- makanan bebas gluten tertentu
Tepung sukun juga mempunyai keunggulan dari sisi distribusi.
Produk dalam bentuk tepung relatif mudah dikemas dan disimpan dibandingkan buah segar.
Yang menarik, pasar ekspor tidak harus selalu dituju dalam bentuk produk jadi.
Indonesia juga bisa mengekspor breadfruit flour sebagai bahan baku industri makanan di negara lain.
Ini membuka model bisnis B2B.
Misalnya perusahaan Indonesia memproduksi tepung sukun dalam kemasan 20–25 kilogram dan memasarkannya kepada produsen makanan di luar negeri.
Dengan model seperti ini, perusahaan tidak perlu membangun merek consumer goods terlebih dahulu.
Fokusnya adalah kualitas, konsistensi pasokan, spesifikasi produk dan sertifikasi.
3. Frozen Sukun
Produk berikutnya adalah sukun beku.
Buah sukun dapat diproses, dipotong sesuai ukuran tertentu, kemudian dibekukan sehingga lebih mudah digunakan oleh konsumen.
Model seperti ini sebenarnya cukup menarik untuk pasar restoran, hotel, katering dan industri makanan.
Bayangkan sebuah restoran di luar negeri ingin menggunakan sukun sebagai bahan menu.
Restoran tersebut tidak perlu membeli buah sukun segar dan mengolahnya dari awal.
Mereka cukup membeli sukun yang sudah dikupas, dipotong dan dibekukan.
Tinggal dimasak.
Konsep convenience food seperti ini mempunyai peluang karena konsumen modern semakin menghargai produk yang praktis.
Namun, ekspor frozen food membutuhkan rantai dingin yang konsisten. Artinya, investasi dan pengelolaannya lebih kompleks dibandingkan produk kering.
4. Puree Sukun
Sukun juga dapat dikembangkan menjadi puree.
Produk puree banyak digunakan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman.
Puree sukun dapat dikembangkan untuk industri bakery, dessert, makanan bayi, makanan beku dan berbagai produk lainnya.
Keuntungan dari produk seperti ini adalah perusahaan tidak harus menjual kepada konsumen akhir.
Pasarnya dapat berupa perusahaan lain.
Dengan kata lain, sukun dapat masuk ke rantai pasok industri pangan internasional.
Tentu saja diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik puree, daya simpan, metode pengawetan dan standar keamanan pangan sebelum dipasarkan secara luas.
5. Cookies Berbahan Tepung Sukun
Ini merupakan contoh bagaimana bahan lokal bisa diubah menjadi produk bernilai tinggi.
Tepung sukun dapat digunakan sebagai bahan dalam pembuatan cookies.
Produk tersebut bisa diposisikan sebagai makanan ringan berbahan pangan lokal Indonesia.
Untuk pasar ekspor, cerita produk menjadi sangat penting.
Misalnya:
Made from Indonesian Breadfruit
atau
Made with Breadfruit Flour from Indonesia
Cerita seperti ini dapat menjadi bagian dari strategi branding.
Konsumen tidak hanya membeli makanan.
Mereka juga membeli cerita.
Asal bahan, petani yang terlibat, daerah produksi dan proses pembuatannya dapat menjadi bagian dari storytelling produk.
6. Crackers Sukun
Crackers atau biskuit gurih juga berpotensi dikembangkan.
Sukun memiliki kandungan pati sehingga dapat digunakan dalam formulasi berbagai produk pangan.
Crackers sukun bisa diposisikan sebagai snack premium berbahan dasar buah tropis.
Produk seperti ini bisa menarik untuk pasar yang menyukai makanan ringan unik.
Apalagi jika dikombinasikan dengan bahan lokal lainnya.
Misalnya crackers sukun dengan:
- daun jeruk
- cabai
- keju
- rempah-rempah Indonesia
- bawang
- rumput laut
Dengan begitu, produk tidak hanya menjual “sukun”, tetapi menjual pengalaman rasa khas Indonesia.
7. Pasta dan Mie Berbasis Sukun
Ini merupakan segmen yang lebih serius karena membutuhkan riset formulasi.
Tepung sukun dapat digunakan sebagai bahan campuran dalam pembuatan mie atau pasta.
Tujuannya bukan selalu menggantikan tepung terigu 100 persen.
Campuran dengan bahan lain dapat digunakan untuk mendapatkan tekstur dan karakteristik yang sesuai.
Produk seperti ini berpotensi masuk ke kategori makanan inovatif berbasis pangan lokal.
Pasarnya dapat menyasar konsumen yang tertarik mencoba alternatif bahan pangan.
Namun, klaim kesehatan atau klaim bebas gluten harus ditangani secara hati-hati dan harus disesuaikan dengan hasil pengujian serta regulasi negara tujuan.
8. Snack Sukun Modern
Pasar snack sangat besar.
Karena itu, sukun sebenarnya dapat dikembangkan jauh melampaui keripik tradisional.
Misalnya dibuat dalam bentuk:
Breadfruit Snack Bites
Produk bisa dibuat dengan berbagai bentuk dan rasa.
Kemasan kecil dapat ditujukan untuk retail.
Kemasan lebih besar dapat ditujukan untuk keluarga.
Sementara kemasan premium dapat dijual melalui toko makanan khusus atau kanal e-commerce.
Strategi seperti ini memungkinkan satu bahan baku menghasilkan beberapa segmen produk.
9. Sukun sebagai Bahan Baku Produk Pangan Bayi
Tepung dari bahan pangan lokal juga berpotensi digunakan dalam formulasi makanan bayi.
Namun, sektor ini bukan pasar yang bisa dimasuki hanya bermodalkan resep.
Produk untuk bayi memiliki persyaratan keamanan dan regulasi yang jauh lebih ketat.
Diperlukan pengujian kandungan gizi, keamanan mikrobiologi, cemaran, formulasi serta pemenuhan regulasi negara tujuan.
Karena itu, segmen ini lebih cocok untuk perusahaan pangan yang sudah mempunyai fasilitas produksi dan laboratorium yang memadai.
10. Potensi Pasar Ekspor Sukun
Negara yang Berpotensi Menjadi Pasar Ekspor Sukun
Potensi pasar ekspor sukun sebenarnya cukup menarik, tetapi data perdagangan internasional perlu dibaca dengan hati-hati. Sukun belum memiliki satu kode HS internasional yang secara konsisten digunakan semua negara. Dalam banyak statistik perdagangan, sukun digabungkan dengan kelompok other fresh fruit atau kelompok produk buah lainnya. Database perdagangan seperti BACI/OEC mencatat arus perdagangan bilateral hingga tingkat HS 6 digit dan menyediakan data nilai serta kuantitas, tetapi produk yang berada dalam satu kode HS belum tentu seluruhnya merupakan sukun.
Karena itu, volume pada tabel di bawah sebaiknya dipandang sebagai ukuran pasar/kelompok komoditas terkait, bukan volume impor sukun murni.
Negara yang layak menjadi target
| Negara | Indikasi pasar | Perkiraan volume pasar* | Peluang produk |
|---|---|---|---|
| Amerika Serikat | Pasar besar untuk buah tropis dan produk olahan | Sangat besar | Keripik, tepung, frozen |
| Kanada | Pasar buah tropis dan produk specialty | Besar | Keripik, tepung, frozen |
| Australia | Dekat dengan Indonesia dan memiliki pasar Asia/Pasifik | Besar | Frozen, tepung, snack |
| Selandia Baru | Ada perdagangan produk nabati yang juga mencakup breadfruit | ±1.120 ton pada 2024** | Frozen, tepung, produk olahan |
| Singapura | Pasar premium dan pusat distribusi regional | Besar untuk ukuran pasar | Fresh, frozen, snack |
| Malaysia | Dekat secara geografis dan memiliki budaya konsumsi yang mirip | Potensial | Keripik, tepung, frozen |
| Thailand | Pasar buah tropis dan industri makanan berkembang | Besar | Tepung, frozen, bahan baku |
| Jepang | Pasar premium dengan standar tinggi | Potensial | Produk premium, snack |
| Korea Selatan | Pasar produk pangan impor | Potensial | Snack dan produk olahan |
| Uni Emirat Arab | Hub distribusi Timur Tengah | Potensial | Produk kering dan premium |
| Inggris | Pasar specialty food dan konsumen multikultural | Potensial | Tepung, snack |
| Belanda | Hub perdagangan pangan Eropa | Potensial | Tepung, frozen, processed food |
* Angka “besar/potensial” menunjukkan ukuran dan karakter pasar, bukan volume impor sukun spesifik.
** Angka Selandia Baru merupakan total impor kelompok HS 1212990039, yang di dalam definisinya mencakup moringa, noni dan breadfruit, sehingga bukan 1.120 ton sukun murni. Pada 2024 total kelompok tersebut mencapai 1.120.164 kg.
Selandia Baru: contoh data yang lebih konkret
Selandia Baru merupakan contoh menarik karena tersedia data yang secara eksplisit menyebut bahwa kelompok produk tersebut termasuk breadfruit/sukun.
Pada 2024, Selandia Baru mengimpor sekitar 1.120 ton produk dalam kelompok Vegetable Products, N.E.C. in Chapter 12, yang mencakup antara lain moringa, noni dan breadfruit. Nilai total impornya mencapai sekitar NZ$8,53 juta.
Sumber tersebut mencatat volume impor 2024 dari beberapa negara utama:
| Negara pemasok | Volume 2024 |
|---|---|
| China | 1.007.455 kg |
| Fiji | 67.341 kg |
| Vietnam | 41.760 kg |
| Australia | 3.583 kg |
| Tonga | 25 kg |
| Total | 1.120.164 kg |
Data ini menarik bagi Indonesia karena menunjukkan bahwa pasar Selandia Baru memang mengimpor produk dalam kategori yang mencakup breadfruit, meskipun angka tersebut tidak boleh disebut sebagai volume impor sukun secara keseluruhan.
Thailand Juga Menarik untuk Dibidik
Thailand merupakan pasar yang patut diperhatikan karena memiliki industri pangan dan perdagangan buah tropis yang besar.
Sebagai gambaran, pada 2023 Thailand mengimpor sekitar US$40 juta produk dalam kelompok HS 081090 (fresh fruit, n.e.s.). Indonesia sendiri tercatat memasok sekitar US$1,04 juta dari kelompok tersebut ke Thailand. Namun sekali lagi, HS 081090 mencakup berbagai buah dan bukan khusus sukun.
Artinya, angka tersebut lebih tepat digunakan untuk menunjukkan besarnya pasar buah tropis yang dapat menjadi pintu masuk produk sukun, bukan sebagai klaim bahwa Thailand mengimpor US$1,04 juta sukun dari Indonesia.
Jangan Menjual Sukun, Jual Produk Bernilai Tambah
Ini mungkin merupakan konsep paling penting dalam bisnis sukun.
Indonesia jangan hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Kalau buah sukun dikirim dalam kondisi mentah, sebagian besar nilai ekonomi justru dapat dinikmati oleh pihak yang melakukan pengolahan di negara tujuan.
Sebaliknya, apabila Indonesia melakukan pengolahan sejak awal, nilai tambah dapat tinggal di dalam negeri.
Petani mendapatkan pasar.
Pengumpul mendapatkan bisnis.
Pabrik mendapatkan pekerjaan.
Tenaga kerja mendapatkan lapangan pekerjaan.
Logistik bergerak.
Kemasan diproduksi.
Dan produk akhirnya bisa dijual dengan harga jauh lebih tinggi.
Dengan kata lain, satu komoditas dapat menciptakan ekosistem ekonomi.
Tantangan Utama Ekspor Produk Sukun
Meskipun potensinya besar, bukan berarti bisnis ini mudah.
Ada sejumlah tantangan yang harus diperhatikan.
Ketersediaan bahan baku
Pabrik membutuhkan bahan baku secara konsisten.
Tidak cukup hanya memiliki sukun saat musim panen.
Harus ada sistem pengadaan yang mampu menjaga kontinuitas.
Karena itu, perlu dibangun kemitraan dengan petani.
Standar kualitas
Ukuran, tingkat kematangan, kebersihan dan kualitas buah harus mempunyai standar.
Industri tidak bisa menerima bahan baku dengan kualitas yang berubah-ubah setiap hari.
Teknologi pengolahan
Setiap produk mempunyai kebutuhan teknologi berbeda.
Keripik membutuhkan teknologi pengirisan dan pengeringan atau penggorengan.
Tepung membutuhkan proses pengeringan, penggilingan dan pengayakan.
Frozen food membutuhkan sistem pembekuan dan cold chain.
Sertifikasi
Pasar ekspor biasanya membutuhkan berbagai persyaratan.
Tergantung produk dan negara tujuan, perusahaan dapat membutuhkan perizinan pangan, sertifikasi keamanan pangan, sistem manajemen mutu, sertifikasi halal, sertifikasi fasilitas produksi serta dokumen ekspor lainnya.
Jadi, ekspor bukan sekadar membuat produk lalu memasukkannya ke dalam kontainer.
Sentralisasi Pengolahan Bisa Menjadi Solusi
Salah satu model yang menarik adalah membangun sentra pengolahan sukun di daerah penghasil.
Petani tetap fokus pada produksi.
Kemudian hasil panen dikumpulkan di unit pengolahan.
Di sana dilakukan sortasi, pencucian, pemotongan, pengeringan dan pengolahan.
Produk akhirnya bisa dibagi menjadi beberapa lini.
Misalnya:
Grade A → produk premium
Grade B → tepung
Grade C → bahan baku produk olahan lainnya
Dengan sistem seperti ini, limbah dapat ditekan.
Buah yang tidak cocok untuk produk premium tidak otomatis menjadi sampah.
Masih ada kemungkinan masuk ke lini pengolahan lain selama memenuhi standar keamanan pangan.
Model Bisnis yang Bisa Dikembangkan
Bisnis sukun tidak harus selalu menggunakan model pabrik besar.
Ada beberapa model yang bisa dikembangkan.
Model pertama: petani menjual sukun segar
Ini model paling sederhana.
Risikonya relatif rendah tetapi nilai tambah juga rendah.
Model kedua: kelompok tani melakukan pengolahan
Petani tidak hanya menjual buah.
Mereka membuat keripik atau tepung.
Nilai tambah mulai meningkat.
Model ketiga: perusahaan membeli bahan baku
Perusahaan membangun pabrik dan membeli sukun dari petani mitra.
Model ini lebih mudah untuk standardisasi produksi.
Model keempat: koperasi sebagai agregator
Koperasi mengumpulkan hasil produksi dari banyak petani.
Kemudian koperasi memasok bahan baku ke industri pengolahan.
Model ini menarik karena dapat menggabungkan skala kecil menjadi volume besar.
Model kelima: integrated export business
Perusahaan mengendalikan seluruh rantai bisnis.
Mulai dari kemitraan petani, pengolahan, packaging, branding hingga ekspor.
Model ini membutuhkan modal lebih besar tetapi potensi margin dan kontrol terhadap kualitas juga lebih tinggi.
Berapa Nilai Tambahnya?
Mari kita gunakan ilustrasi sederhana.
Misalnya seorang petani menghasilkan 1 ton sukun.
Jika dijual sebagai buah segar, pendapatan petani sangat bergantung pada harga pasar saat itu.
Tetapi jika sebagian besar diolah menjadi produk bernilai tambah, struktur ekonominya berubah.
Misalnya:
1 ton sukun → bahan baku tepung → dikemas menjadi produk retail
Nilai jual akhirnya tidak lagi hanya ditentukan oleh harga satu kilogram sukun.
Ada nilai dari proses pengeringan, penggilingan, packaging, branding, distribusi dan pemasaran.
Namun perlu ditekankan, nilai penjualan bukan berarti laba bersih.
Biaya listrik, tenaga kerja, penyusutan mesin, bahan kemasan, transportasi, reject, sertifikasi, gudang, pemasaran dan biaya ekspor harus dihitung.
Justru karena itu, studi kelayakan menjadi sangat penting sebelum membangun pabrik.
Strategi Memulai Ekspor Sukun
Tidak perlu langsung membangun pabrik senilai puluhan miliar rupiah.
Mulailah dari skala kecil.
Tahap pertama adalah mencari produk yang paling potensial.
Buat beberapa prototipe.
Misalnya:
- keripik sukun
- tepung sukun
- cookies sukun
- crackers sukun
Kemudian lakukan pengujian pasar.
Produk mana yang paling banyak mendapatkan respons?
Mana yang paling mudah diproduksi?
Mana yang memiliki umur simpan paling panjang?
Mana yang biaya produksinya paling rendah?
Mana yang mempunyai margin paling menarik?
Setelah itu baru pilih satu atau dua produk utama.
Kemasan Jangan Dianggap Sepele
Banyak produk lokal sebenarnya enak.
Masalahnya adalah kemasannya terlihat seperti produk rumahan.
Untuk pasar ekspor, kemasan harus berbicara dalam hitungan detik.
Konsumen harus langsung memahami:
Apa produknya?
Terbuat dari apa?
Dari negara mana?
Bagaimana cara mengonsumsinya?
Berapa beratnya?
Berapa lama masa simpannya?
Apa informasi penting lainnya?
Desain kemasan juga harus disesuaikan dengan karakter pasar.
Produk yang ditujukan ke toko oleh-oleh diaspora Indonesia bisa berbeda dengan produk yang ditujukan kepada konsumen umum di supermarket internasional.
Branding Sukun Indonesia
Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk membangun identitas produk sukun.
Bukan sekadar menjual “keripik sukun”.
Tetapi membangun kategori:
Indonesian Breadfruit Products
Kemudian di bawahnya terdapat berbagai produk.
Breadfruit Chips.
Breadfruit Flour.
Breadfruit Cookies.
Breadfruit Crackers.
Breadfruit Frozen Food.
Dengan strategi tersebut, satu bahan baku bisa menjadi sebuah ekosistem merek.
Sukun Bisa Menjadi Komoditas Desa
Ada satu aspek yang sering dilupakan.
Sukun bukan hanya peluang bisnis bagi perusahaan besar.
Komoditas ini juga berpotensi dikembangkan menjadi industri berbasis desa.
Bayangkan sebuah desa memiliki banyak pohon sukun.
Daripada buah hanya dijual murah ketika panen, masyarakat dapat membangun unit pengolahan sederhana.
Sebagian masyarakat menjadi pemasok bahan baku.
Sebagian bekerja di bagian produksi.
Sebagian mengurus packaging.
Sebagian menangani pemasaran online.
Ketika kapasitas sudah meningkat, produk dapat masuk ke distributor.
Dari sana baru dikembangkan menjadi produk ekspor.
Model seperti ini jauh lebih menarik dibandingkan sekadar mengirim buah mentah keluar daerah.
Peluang Besar Ada pada Tepung
Jika harus memilih satu produk untuk dikembangkan secara serius, tepung sukun merupakan kandidat yang sangat menarik.
Alasannya sederhana.
Tepung lebih mudah disimpan.
Lebih mudah dikirim.
Dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai produk.
Dan pasar B2B memberikan peluang volume yang besar.
Bayangkan apabila sebuah perusahaan mampu menghasilkan beberapa puluh ton tepung sukun setiap bulan dengan kualitas yang konsisten.
Pasarnya tidak harus konsumen Indonesia.
Perusahaan bakery, produsen makanan dan distributor bahan pangan di luar negeri dapat menjadi target.
Tentu saja semuanya kembali pada kualitas, harga, sertifikasi dan kemampuan memenuhi permintaan.
Dari Buah Lokal Menjadi Produk Global
Indonesia mempunyai banyak buah lokal yang sebenarnya memiliki potensi ekonomi besar.
Masalahnya sering kali bukan pada komoditasnya.
Masalahnya adalah bagaimana kita mengubah komoditas tersebut menjadi produk yang dibutuhkan pasar.
Sukun adalah salah satu contohnya.
Selama ini sukun lebih banyak dianggap sebagai makanan tradisional.
Padahal dengan teknologi pengolahan yang tepat, sukun bisa masuk ke industri pangan modern.
Mulai dari tepung sampai snack.
Mulai dari produk rumahan sampai produk industri.
Mulai dari pasar lokal sampai pasar internasional.
Yang diperlukan bukan sekadar produksi sebanyak-banyaknya.
Yang diperlukan adalah standardisasi, kontinuitas, inovasi dan pemasaran.
Kesimpulan
Potensi ekspor produk olahan dari buah sukun cukup menarik untuk dikembangkan.
Keripik sukun dapat menjadi produk snack.
Tepung sukun dapat menjadi bahan baku industri pangan.
Frozen sukun dapat menyasar restoran dan industri makanan.
Puree dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai produk.
Sedangkan cookies, crackers, mie, pasta dan snack modern dapat menjadi produk consumer goods bernilai tambah.
Kunci utamanya adalah jangan melihat sukun hanya sebagai buah.
Lihat sukun sebagai bahan baku industri.
Perubahan cara pandang tersebut sangat penting.
Ketika sukun hanya dijual sebagai buah, keuntungan terbesar biasanya berhenti pada transaksi bahan mentah.
Tetapi ketika sukun diolah menjadi produk yang memiliki merek, standar kualitas, kemasan dan pasar, nilai ekonominya bisa berkembang jauh lebih besar.
Indonesia memiliki lahan, petani dan bahan baku. Yang masih perlu diperkuat adalah teknologi pengolahan, manajemen rantai pasok, standardisasi dan akses pasar.
Jika seluruh komponen tersebut bisa dibangun dengan baik, bukan tidak mungkin suatu saat sukun Indonesia tidak hanya dikenal sebagai buah lokal, tetapi juga sebagai bahan pangan bernilai tambah yang mampu menembus pasar ekspor.




