Demi Sumpah Jabatan, AHOK Menolak Pemberian Hadiah

ahok bupati beltim
AHOK pada acara pengambilan sumpah jabatan sebagai Bupati Belitung Timur

MYAHOK.COM-Ketika AHOK dilantik menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur, ada seorang teman bisnis yang memberinya sebuah kulkas yang cukup besar. Pertanyaannya, apakah AHOK boleh menerimanya?

Bukankah sumpah jabatan menyebutkan bahwa setiap pejabat negara tidak boleh menerima apapun juga yang dapat atau dapat diduga berhubungan dengan jabatannya?

Sebagai manusia biasa, AHOK tentunya senang menerima pemberian itu, namun isi sumpah jabatan yang diucapkannya dengan menaruh tangan diatas Alkitab itulah yang mengganggu nuraninya.

Mengapa untuk menolong para pejabat agar dengan mudah menerima semua hadiah atau pemberian dari orang lain, kalimat tersebut tidak dihapus saja? Bukankah lebih mudah mengubah tulisan yang manusia buat daripada menghapus firman Tuhan di kitab Suci?

Bukankah banyak sekali PNS yang terpaksa melanggar sumpahnya karena terdesak oleh kebutuhan hidup keluarganya, meski tak sedikit pejabat yang memang mencari harta yang tak habis dimakan tujuh turunan?

Kalau kita boleh sedikit ‘membela’ atau membenarkan dalam hal ini, bukankah jumlah pejabat yang terpaksa melanggar sumpah tersebut labih banyak daripada para pejabat yang sudah terlanjur kaya raya?

Apakah dengan adanya kondisi diatas, lalu dibenarkan melanggar sumpah jabatan yang telah diucapkannya saat pelantikan?

Bila boleh mengutip perkataan orang bijak sebagai berikut :

“Dua hal yang aku mohonkan kepadamu, Tuhan. Jangan Kau tolak sebelum aku mati. Yang pertama adalah jauhkanlah aku dari kecurangan dan kebohongan, dan kedua, jangan beri aku kemiskinan atau kekayaan. 

Biarlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Agar bila nanti aku merasa kenyang maka aku tidak menyangkalMu dan berkata, “Siapa Tuhan itu?” dan bila aku miskin maka aku akan mencuri dan mencemarkan nama Tuhanku..” 

Bila melihat kondisi yang ada, maka wajarlah bila banyak PNS yang melanggar sumpah jabatannya karena terpaksa demi menutupi kebutuhan hidup keluarganya. Namun apa yang di sampaikan oleh orang bijak tersebut tidak salah, sebab dia tak meminta menjadi orang yang kaya maupun miskin. Dia hanya meminta agar dirinya bisa diberikan apa yag menjadi haknya saja.

Namun demikian, apakah dengan adanya kondisi itu, lalu mereka melanggar sumpah yang telah diucapkannya sendiri?

Lalu bagaimana dengan AHOK yang telah menjadi pejabat kepala daerah dan telah menghabiskan begitu banyak uang dalam masa kampanye? Apakah tidak boleh menerima pemberian untuk mengganti semua uang yang telah dikeluarkan itu, apalagi hanya sebuah kulkas?

Kemudian AHOK menimbang-nimbang, apakah pemberian kulkas itu terkait atau tidak dengan jabatannya. Dia teringat ketika teman bisnisnya itu memberi uang ketika ayahnya meninggal sekaligus sebagai hadiah pernikahannya sejumlah Rp. 200.00,- saja.

Dengan demikian sangatlah mudah bagi AHOK untuk menilai bahwa pemberian itu bukanlah untuk dirinya pribadi, melainkan terkait dengan jabatannya sebagai Kepala Daerah.

Oleh karena itu, demi sumpah jabatan yang telah diucapkannya dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,  AHOK menolak pemberian tersebut.

#donibastian

Catatan : Pengakuan AHOK ini dicuplik dari buku : “Merubah Indonesia”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses