MYAHOK.WIN-Tak ada pejabat Kepala Daerah yang sepopuler dan setenar AHOK. Tiada hari tanpa berita tentang kepemimpinannya yang senantiasa mendominasi setiap halaman muka di berbagai media, baik cetak, elektronik, televisi hingga media sosial di tanah air.
Membicarakan gaya kepemimpinan AHOK saat ini memang sangatlah mengasyikkan. Banyak kalangan yang mengaku tertarik untuk mengikuti berita tentang kegiatan dan apapun yang terjadi terkait AHOK sebagai Gubernur DKI yang fenomenal itu.
Apalagi dengan gaya ‘koboi’nya yang gagah berani melawan bandit-bandit ibukota. Meski AHOK tak pernah bermain Pistol seperti yang dilakukan oleh para koboi sambil menunggang kuda, sebagaimana yang biasa disaksikan di film layar lebar, namun meski demikian AHOK tetap saja bisa membuat lawan-lamannya takluk hanya berbekal kecerdasan dan gayanya bicara.
Ahok meski sangat jitu dalam membidik sasaran tembak, namun tak jarang dalam berbagai rapat, AHOK menyatakan kekesalan maupun kemarahannya karena masih banyaknya pelanggaran dan inkonsistensi terhadap peraturan yang seringkali dilakukan oleh bawahannya. Bila AHok tampak marah-marah kepada semua audience yang ada, tentu ada sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan dan dipahami kepada pihak terkait.
Karena karakter AHOK yang temperamental ini, tak jarang membuat sebagian kalangan tidak senang dan bahkan membencinya. Apalagi AHOK adalah warga Tionghoa, dan beragama non muslim, yang mana hal ini dimanfaatkan sebagai isu SARA yang dihembus-hembuskan kalangan tertentu yang punya itikad membela kepentingan golongan dan diri mereka sendiri.
Di era reformasi dan globalisasi seperti sekarang ini, publik sudah cukup cerdas dalam menilai siapa yang bakal menjadi pemimpinnya. Isu SARA adalah barang yang sudah usang, tak laku lagi dan masyarakat menganggapnya seperti angin lalu saja.
Bila dibanding dengan pemimpin Jakarta sebelumnya, setelah Gubernur Ali Sadikin, kepemimpinan AHOK ini menjelma bagai sebuah fenomena yang ‘aneh’. AHOK dianggap ‘aneh’ karena tidak seperti biasanya pemimpin yang santun dan selalu menjaga hubungan ‘mesra’ dengan berbagai pihak. Bahkan AHOK cenderung ekstrim dengan melawan semua orang, bahkan semua pejabat di lembaga legislatif yang melawan hukum dan melanggar aturan apalagi bila berbuat korupsi.
AHOK menilai bahwa budaya korupsi dilingkungan PNS dan para pejabat di negeri ini sudah terlalu parah, dan harus segera di musnahkan dengan cara yang tegas dan keras. Ibarat rumput ilalang yang telah menjalar kemana-mana, untuk membersihkannya, dibutuhkan pisau yang tajam.
Namun demikian bila kita mau bersikap lebih obyektip dalam menilai persoalan. apa yang dilakukan AHOK tersebut menimbulkan pertanyaan besar. Seseungguhnya apa yang terjadi di DKI Jakarta, hingga membuat AHOK seringkali marah dan kecewa?. Apakah benar sedemikian rumit permasalahan yang ada, ataukah hanya permasalahan sikap dan perilaku dari aparat di lingkungan PemProv DKI yang sudah terlalu lama hanyut dalam budaya kerja yang lamban, tak berdedikasi dan cenderung memanfaatkan posisi untuk melakukan kegiatan korupsi?
Ataukah memang bawaan sejak lahir, bahwa AHOK memiliki sifat dan perilaku yang berani dan tak pernah surut dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
Bila boleh meminjam kalimat bijak yang dulu pernah diucapkan mendiang Presiden Soeharto, bahwa ‘tidak mungkin membuat semua orang tertawa‘. Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa sebaik-baik seorang pemimpin, meski santun sekalipun, tetap saja tidak bisa membuat semua orang mencintainya. Sudah pasti ada pihak-pihak tertentu yang tidak suka atau bahkan membencinya. Apalagi dengan perilaku AHOK yang keras dan kasar. Sudah barang tentu, tak sedikit pihak yang berseberangan dengannya.
Terlepas dari semua itu, mungkin Tuhan sedang mengirimkan tanda, dengan dihadirkannya AHOK sebagai pejabat Kepala Daerah. Hal ini mungkin saja sebagai tonggak sejarah untuk mengingatkan semua orang, terutama kepada para pejabat negara dan aparat pemerintah lainnya agar kembali kepada fungsi utama yaitu melayani dan melindungi kepentingan masyarakat, bukannya memeras dan mencuri uang rakyat, dan membiarkan rakyat dalam kondisi yang tertindas di berbagi bidang.
Bila diambil korelasinya, maka hanya orang-orang yang punya jiwa pemberani seperti AHOK inilah yang mampu memberantas segala penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan. Sebagai konsekuensinya, masyarakat, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, harus rela menerima apa yang dilakukan AHOK sebagai Gubernur DKI.
Ibarat kata, bila Jakarta sedang sakit parah dan ingin segera sembuh, maka Jakarta harus rela menahan rasa pahit dan getir dari obat yang diberikan oleh dokter. Justru rasa pahit itulah, boleh jadi sebagai tanda bahwa obat yang diberikan sangatlah manjur dan mampu menyembuhkan segala jenis penyakit.
#donibastian